Skip to content

Pembangunan PLT Panas Bumi Gunung Tampomas Belum Sepenuhnya Disetujui Warga

5 Mei 2011

Indonesia sebenarnya adalah merupakan negara yang memiliki Potensial Energi Panas Bumi (geothermal) terbesar di dunia, tersebar di 253 lokasi yang diperkirakan dapat menghasilkan listrik sekitar 27,000 MW atau sekitar 40% dari cadangan energy panas bumi dunia (Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia), oleh karena itu PT.PLN bersama dengan Perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang energi melakukan ekplorasi Geothermal Tampomas.yang akan dibangun di Kecamatan Buahdua, disekitar kawasan rekreasi pemandian Cipanas di kaki Gunung Tampomas sebelah Utara, yang memiliki kandungan panas bumi cukup potensial sekitar 55 mega watt.
Namun, Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Gunung Tampomas hingga kini masih belum 100 % mendapat peersetujuan warga sekitar, masyarakat yang bermukim diwilayah proyek tersebut masih belum bisa menerima rencana pembangunan pembangkit listrik tersebut. Dari ketiga desa yang wilayahnya akan dibangun proyek, Desa Cilangkap, Desa Narimbang dan Sekarwangi, mayoritas dari mereka masih menolak pembangunanannya, menindaklanjuti wacana tersebut, PT. WIKA Jabar Power Geothermal, pelaksana pembangunan PLTP Gunung Tampomas, Sabtu (16/4) bertempat di Hotel Hegarmanah laksanaan sosilalisasi dengan tokoh dan perwakilan dari ketiga desa tersebut.
Dikatakan narasumber, tenaga ahli pengeboran panas bumi, bahwa berdasarkan struktur tanah, lokasi dan teknology yang nanti akan digunakan, pengeboran pembangkit listrik tenaga uap tersebut dikatakannya aman untuk dilaksanakan. “ Struktur tanah dilokasi tersebut keras yang terdiri dari batuan, jadi, kekhawatiran masyarakat akan terjadi musibah serupa Lapindo tidak beralasan. Tingkat kebisingan yang ditimbulkan PLTP tak perlu dikhawatirkan, karena wilayah pemukiman berada pada batas aman. Wilayah pemukiman berada lebih dari tiga kilometer dari proyek, karena batas yang dimungkinkan adalah minimal satu kilo dari pembangkit listrik bila dilingkungannya dilindungi hutan sebagai peredam, dan tiga kilo bila tak ada tumbuhan sebagai pelindung kebisingan !, “ katanya.
Dikatakan salah seorang perwakilan dari warga, mereka sempat melakukan kunjungan ke Kamojang Kabupaten Garut, wilayah yang sudah sejak lama dibangun pembangkit listrik serupa, berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan, dampak dari proyek tersebut sangat memprihatinkan, perkampungan yang dulu ada tepat dibawah PLTP, kini direlokasi karena sudah tidak layak huni, debit air menurun drastis akibat dari eksploitasi panas bumi tersebut, belum lagi efek samping dari limbah yang dihasilkannya nanti.
“ Kalau agak jauh dari tempat itu, kami setuju, tanah itu tumpuan hidup kami, kami mayoritas petani yang hidup dari bercocok tanam. Jadi, kalau kalau lingkungan disana sudah tidak dapat produktif lagi yang disbabkan proyek, jelas keberatan, “ imbuhnya. Belum lagi, tingkat kemiringan tanah disana sekitar 60 derajat yang rentan akan bahaya longsor, “ Belum ada proyek saja sering longsor, apalagi nanti !, “ pungkasnya.
Setelah medengar keluhan perwakilan masyarakat tersebut, PT. WIKA Jabar berusaha memberikan penjelasan dan meyakinkan tentang kelayakan pembangunan proyek yang tidak akan merugikan masyarakat, tetapi higga berakhirnya acara masih juga belum bisa mengerti.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: